WHAT'S NEW?
Loading...

Melumpuhkan Virus Kekerasan di Sekolah By. Babibank

Apabila kita lihat akhir-akhir ini marak terjadi tindakan kekerasan yang menghiasi pemberitaan media terlebih lagi tindakan kekerasan ini dilakukan oleh anak yang notabene masih berada dibawah umur. Peristiwa ini seakan semakin mencoreng wajah pendidikan negri ini, dimana sebuah lembaga yang bertujuan mendidik anak berubah menjadi suatu tempat agresif dan penuh kekerasan. Dimana anak didik yang bertugas menuntut ilmu seakan bertransformasi menjadi sosok brandal,tempramental, dan sarat akan premanisme. Seperti ini lah kenyataan potret pendidikan negri ini dimana peristiwa tawuran, pemalakan, dan aksi bullying seakan menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat ketika membayangkan bagaimana sesungguhnya kehidupan di sekolah. Pergeseran kodrat para pelajar ini lah yang membuat semakin buruknya kualitas pendidikan bangsa ini. Mau bagaimana pun bentuk kurikulum tidak mungkin berjalan sesuai harapan apabila tidak diperbaiki dari sisi pelajar itu sendiri  sebagai konsumen dari produk pendidikan dengan kata lain perbaikan dari dalam adalah salah satu jalan keluar yang harus ditempuh untuk memperbaiki sistem pendidikan bangsa ini. Seperti pada umumnya suatu sistem hanya dapat berjalan optimal apabila terjadi sinergi yang baik antar organ didalamnya. Akan tetapi untuk memperbaiki sistem pendidikan ini seakan terhambat oleh suatu "virus" yang seakan menjangkiti para siswa yaitu kekerasan dan anarkisme yang berada dalam diri mereka sendiri yang mengganggu kondrat mereka sebagai pelajar yang  seharusnya bertugas menuntut ilmu malah berperan seakan preman berseragam. Tindak kekerasan yang dilakukan oleh pelajar kian meningkat bukan hanya pada jenjang usia remaja bahkan juga terjadi pada usia anak yang disinyalir karena adanya faktor external sendiri yang berasal luar lingkungan sekolahan itu sendiri. Seperti mudahnya akses menemukan acara yang sarat akan kekerasan baik film maupun televisi. Tayangan kekerasan tidak harus berbentuk kongkrit seperti "smackdown" akan tetapi kadang luput dari perhatian kita karena bentuk kekerasan ini sebenarnya tersirat dan orang tua seakan menghalalkan anaknya untuk menonton tayangan tersebut contohnya film superhero yang sebenarnya mengandung banyak adegan kekerasan yang bersembunyi di balik kedoknya sebagai film kartun dan juga permainan yang berbau militeristik juga cukup berperan. Sangat disayangkan hal ini dapat berimplikasi besar bagi perkembangan psikologis anak, tidak sedikit anak yang terobsesi menjadi superhero dan mudah untuk menirukan gerakan-gerakan superhero itu seperti memukul,menendang, dan bahkan membanting lawannya. Secara tidak langsung ini menanamkan sifat kekerasan pada anak didalam alam bawah sadarnya dan mungkin apabila tidak terkontrol ketika dia sudah menginjak usia remaja hal ini dapat membahayakan anak karena memiliki karakter yang agresif dan bahkan tempramen. Dalam kacamata psikologis, kekerasan merupakan suatu bukti atas ketidakmampuan manusia untuk mengendalikan nafsu, motif dan alam bawah sadar yang secara naluriah dimiliki oleh setiap manusia. Ini yang patut menjadi perhatian bagi para orang tua dalam mendidik anaknya usahakan jangan sampai anak berlebihan dalam menyerap suatu tayangan kekerasan atau kalau bisa hindari untuk memberikan tontonan yang berpotensi membahayakan anak dan selalu dampingi anak dalam menonton. Peran guru sebagai orang tua kedua disekolah pun turut memberikan kontribusi yang besar karena pengawasan orang tua terbatas hanya dirumah, sedangkan pergaulan dilapangan sendiri yaitu disekolah hanya bisa dipantau oleh guru. Dan apabila ada terlihat terjadi penyimpangan sifat kekerasan yang dominan pada anak dapat segera dikonsultasikan kepada orang tua untuk tindakan lebih lanjutnya. Jangan sampai anak, terlanjur menanamkan kuat didalam diri mereka bahwa masalah apapun yang dihadapi hanya dapat diselesaikan dengan jalan kekerasan. Bahwa kekerasan telah menjadi ”icon” dalam hidup sehari-hari, apapun bentuknya. Artinya, anak-anak dan remaja yang sejak dini berpotensi menjadi generasi remaja, pemuda bahkan orang tua yang juga tidak sehat secara fisik, psikologis, emosional, social dan moral karena "virus" kekerasan ini. Pada dasarnya, pengembangkan konsep pendidikan anti kekerasan dalam tatanan masyarakat yang penuh permasalahan sosial memang memilik tantangan tersendiri. Dalam hal ini pendidikan anti kekerasan lebih dimaksudkan untuk menciptakan masyarakat masa depan yang memiliki rasa toleransi yang tinggi dimana cara kekeluargaan lebih utama dibandingkan penyelesaian masalah dengan kekerasan. Disinilah urgensi sebuah pendidikan anti kekerasan menjadi suatu bagian yang penting dalam tatanan kehidupan masyarakat yang akan datang dengan menciptakan generasi yang memiliki intelektual tinggi dan berbudi perkerti luhur dan cermat dalam menyelesaikan permasalahan tanpa jalur kekerasan.

0 comments:

Post a Comment